kerawanan banjir di wilayah ini sangat dipengaruhi oleh kondisi daerah aliran sungai (DAS) yang kritis akibat alih fungsi lahan dan curah hujan ekstrem.

Berikut adalah poin-poin utama terkait kerawanan banjir menurut tinjauan teknis dan historis di wilayah kerja BPDAS Cimanuk Citanduy:

Faktor Utama Kerawanan

Wilayah Prioritas Rawan Banjir

Upaya Mitigasi dan Penanganan

  • Kondisi DAS Kritis: Buruknya kondisi DAS Cimanuk, terutama di bagian hulu, menjadi penyebab utama banjir bandang, Kabupaten Garut tercatat memiliki luas lahan kritis terbesar di DAS Cimanuk.
  • Alih Fungsi Lahan: Perubahan tutupan lahan di sub-sub DAS (seperti Sub DAS Cikamiri) meningkatkan limpasan permukaan (surface runoff) yang memicu banjir.
  • Parameter Fisik: Tingkat kerawanan ditentukan oleh kombinasi intensitas curah hujan yang tinggi (mencapai 110–255 mm/hari), jenis tanah, kemiringan lereng, dan kerapatan sungai. 
  • Wilayah kerja BPDAS ini mencakup dua sistem sungai besar dengan titik rawan yang berbeda:

    • DAS Cimanuk: Fokus utama pada wilayah Garut(hulu) yang rawan banjir bandang akibat topografi dan kerusakan hutan.
    • DAS Citanduy: Kerawanan sering terjadi di wilayah hilir seperti Cilacapdan Pangandaran, di mana elevasi lahan yang rendah sering menyebabkan genangan saat debit sungai meningkat atau terjadi air pasang (rob). 

 adalah menyusun rencana dan melaksanakan rehabilitasi lahan kritis untuk memulihkan fungsi hidrologis DAS.

  • Konservasi Tanah dan Air: Implementasi teknik konservasi untuk mengurangi kecepatan aliran air menuju sungai saat hujan lebat.
  • Pemetaan Rawan Banjir: BPDAS secara berkala menyediakan data peta kerawanan sebagai arahan bagi Pola Pengelolaan Sumber Daya Air di Wilayah Sungai Citanduy dan Cimanuk. 
Scroll to Top